SEJARAH NUZULUL QUR’AN

SEJARAH NUZULUL QUR’AN
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah : Ulumul Qur’an
Dosen Pengampu : Rifngan, S.Ag.



Disusun Oleh :

Siti nur Jannah                      (133611051)
Setya Suryaningsih                (133611057)
Umi Hanik                             (133611053)
Rr Mega Kurnia Pradani       (133611060)


FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2015


I.          Pendahuluan
      Al-Qur’an adalah kitab yang sangat penting bagi manusia di seluruh dunia terutama bagi umat islam. Didalamnya terdapat banyak sekali pelajaran hidup yang dapat kita kaji, bahkan saat ini banyak sekali orang-orang di berbagai belahan dunia sedang mempelajarinya.
Sesungguhnya Al-Qur’an diturunkan ke dunia menyimpan berjuta rahasia. Banyak rahasia yang belum terungkap sampai sekarang sehingga masih menjadi perdebatan para ulama’ dan menjadi misteri yang belum mampu sepenuhnya terungkap.
Dan alangkah baiknya, sebelum mempelajari lebih dalam ilmu-ilmu yang terkandung dalam Al-Qur’an, kita harus mengetahui terlebih dahulu bagaimana sejarah dan awal mula Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad, dan bagaimana manusia mampu menerjemahkan hikmah-hikmah turunnya Al-Qur’an.
Pembicaraan tentang turunnya alqur’an umumnya berkisar pada masalah ayat yang diturunkan pertama kali dan ayat yang terakhir, yaitu kapan dan dimana turunnya, dan ayat-ayat apa yang diturunkan pada masing-masing peristiwa itu. [1]

II.          Rumusan  Masalah
1.         Apa pengertian nuzulul Qur’an?
2.         Bagaimana sejarah nuzulul Qur’an?
3.         Apa hikmah diturunkan Al-Qur’an secara  Gradual?

III.          Pembahasan
A.    Pengertian Nuzulul Qur’an
Nuzulul Qur’an berasal dari kata nuzul dan Al-Qur’an. Secara etimologi kata nuzul berasal dari kata (نزل - ينزل - نزول)  yang artinya turun, Sedangkan etimologi kata Al-Qur’an berasal dari kata (قرأ – يقرؤ –  فرأنا ) yang  berarti bacaan. nuzul  Al-Qur’an kepada rasulullah adalah penerimaan Al-Qur’an oleh rasulullah. Diungkapkan turunnya Al-Qur’an kepada beliau itu memberikan pengertian dari atas ke bawah. Demikian itu karena ketinggian kedudukan Al-Qur’an dan besarnya ajaran-ajarannya yang dapat mengubah perjalanan hidup manusia mendatang serta menyambung langit dan bumi serta dunia dan akhirat. (Muh. Abdul Adzim Al Zulqani, Manahil Al-Irfan fi Ulumul Qur’an).[2]
Dalam Ensiklopedia Islam disebutkan bahwa ada dua makna nuzul Al-Qur’an. Pertama, bahwa istilah nuzul berasal dari kata nazzala Yunazzilu dengan makna konotatif yaitu turun secara berangsur-angsur. Kedua istilah nuzul berasal dari kata anzala Yunzilu dengan makna denotasi “menurunkan”. Secara istilah nuzulul Qur’an adalah ilmu yang mengkaji tentang “turunnya alQur’an”.[3]
B.     Sejarah Nuzulul Qur’an

Turunnya al-Qur’an membawa perubahan bagi manusia di muka bumi. Turunnya al-Qur’an sebagai putunjuk bagi manusia memperoleh jalan yang benar menuju cahaya iman dan Islam. Ayat pertama yang turun merupakan pertanyaan-pertanyaan yang berkisar di seputar nasib manusia, asal usul dan tujuannya. Kapan dan dimana serta peristiwa yang terjadi pada saat ayat pertama dan terakhir diturunkan kepada Muhammad SAW. Para jumhur ulama’ menyebutkan bahwa ayat yang pertama kali turun ialah surat al-‘Alaq ayat 1-5.
ù&tø%$# ÉOó$$Î/ y7În/u Ï%©!$# t,n=y{ ÇÊÈ t,n=y{ z`»|¡SM}$# ô`ÏB @,n=tã ÇËÈ ù&tø%$# y7š/uur ãPtø.F{$# ÇÌÈ Ï%©!$# zO¯=tæ ÉOn=s)ø9$$Î/ ÇÍÈ zO¯=tæ z`»|¡SM}$# $tB óOs9 ÷Ls>÷ètƒ ÇÎÈ
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam (baca tulis), Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya” (QS. al-‘Alaq ayat 1-5).
Surat al-‘Alaq diturunkan ketika rasulullah saw berada di gua hira’, yaitu sebuah gua dijabal nur, yang terletak kira-kira tiga mil dari kota Mekah. Ini terjadi pada malam senin, tanggal 17 ramadhan tahun ke 41 dari usia Rasulullah 13 tahun sebelum hijriyah. Bertepatan dengan bulan Juli tahun 610 M. malam turunnya Al-Qur’an pertama kali di ‘lailatul qodar” atau ‘lailatul mubarakah”, yaitu suatu malam kemuliaan penuh dengan keberkahan.
Malam tersebut dinamakan lailatul qadar karena ia memiliki nilai yang tinggi, karena diturunkan di malam itu kitab suci kepada nabi dan rasul Allah yang terakhir, dan akan menjadi pedoman seluruh umat manusia sampai akhir jaman kelak. Juga di namakan Lailatul Mubarokah karena malam tersebut dipenuhi dengan berkah dan nikmat Allah yang tak ternilai, yaitu Alqur’anul karim, pembebas manusia dari kesesatan,pembimbing manusia ke jalan yang benar, menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.
Adapun mengenai tanggalnya dalam alqur’an tidak di sebutkan jelas, melainkan dikatakan bahwa alqur’an itu di turunkan pada yaumul furqon, yang bertepatan dengan hari bertemunya dua pasukan di medan perang.
Allah berfirman:
* (#þqßJn=÷æ$#ur $yJ¯Rr& NçGôJÏYxî `ÏiB &äóÓx« ¨br'sù ¬! ¼çm|¡çHè~ ÉAqߧ=Ï9ur Ï%Î!ur 4n1öà)ø9$# 4yJ»tGuŠø9$#ur ÈûüÅ3»|¡yJø9$#ur ÇÆö/$#ur È@Î6¡¡9$# bÎ) óOçGYä. NçGYtB#uä «!$$Î/ !$tBur $uZø9tRr& 4n?tã $tRÏö6tã tPöqtƒ Èb$s%öàÿø9$# tPöqtƒ s)tGø9$# Èb$yèôJyfø9$# 3 ª!$#ur 4n?tã Èe@à2 &äóÓx« 퍃Ïs% ÇÍÊÈ
Ketahuilah, Sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, Maka Sesungguhnya seperlima untuk Allah, rasul, kerabat rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnussabil,  jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang kami turunkan kepada hamba kami (Muhammad) di hari Furqaan yaitu di hari bertemunya dua pasukan. dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Sedangkan ayat yang diturunkan terakhir bertepatan dengan haji Wada’ di Arafah, yaitu pada hari jum’at tanggal 9 Dzulhijjah tahun ke 63 dari tahun kelahiran nabi atau tahun 10 H/632 M.
.. .4 tPöquø9$# àMù=yJø.r& öNä3s9 öNä3oYƒÏŠ àMôJoÿøCr&ur öNä3øn=tæ ÓÉLyJ÷èÏR àMŠÅÊuur ãNä3s9 zN»n=óM}$#  ...$YYƒÏŠ ÇÌÈ
.... pada hari Ini Telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan Telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan Telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu,.(Al Maidah [5]:3).[4]
Adapun mengenai tahapan turunnya al-Qur’an,  Allah menurunkan al Al-Qur’an kepada rasulullah melalui 3 tahap[5]:
1.      Al-Quran diturunkan oleh Allah secara sekaligus ke Lauh Mahfudz, yaitu suatu tempat yang merupakan catatan segala ketentuan dan kepastian Allah. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Buruj : 21-22;
ö@t/ uqèd ×b#uäöè% ÓÅg¤C ÇËÊÈ Îû 8yöqs9 ¤âqàÿøt¤C ÇËËÈ
“Bahkan yang didustakan mereka itu ialah al-qur’an yang mulia, yang (tersimpan) dalam lauh Mahfudz.”
Mengenai waktu kapan diturunkannya, bagaimana wujudya dan cara Allah menurunkan Al-Qur’an ke lauh mahfudz tidak ada seorangpun yang mengetahui dan hanya Allah yang mengetahuinya. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Dr. Muhammad Salim Mahisin : “Dalam masalah ini kita hanya wajib mempercayainya, karena hal ini termasuk perkara ghaib yang wajib diimani oleh orang-orang muttaqin. Kita tidak bisa bertanya tentang bagaimana caranya dan seperti apa wujud keberadaanya.”
2.      Al-Qur’an diturunkan dari Lauh Mahfudz ke Bait al-Izzah dilangit dunia (Tempat yang berada dilangit dunia)[6]. Proses kedua ini diisyaratkan Allah dalam surat Al-Qadar[97] ayat 1:
!$¯RÎ) çm»oYø9tRr& Îû Ï's#øs9 Íôs)ø9$# ÇÊÈ
”Sesungguhnya kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan Sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.”
3.      Al-Qur’an diturunkan dari bait al-izzah ke dalam hati Nabi Muhammad secara berangsur-angsur dalam satu era yang panjang, yaitu : era bitsah, dalam kurun waktu hampir 23 tahun dengan rincian 13 tahun di mekah dan 10 tahun di Madinah. Selama 23 tahun tersebut Al-Qur’an yang diturunkan kepada Rasulullah itu dapat disampaikannya kepada seluruh manusia pada waktu itu dan dibantu oleh beberapa orang sahabat saja.[7] Dalam tahap akhir inilah ajaran serta petunjuk Allah sampai kepada umat manusia.
Allah SWT menurunkan Al-Qur’an kepada Rasul Muhammad SAW untuk memberi petujuk kepada manusia. Turunnya al-Qur’an merupakan peristiwa besar yang sekaligus menyatakan kedudukannya bagi penghuni langit dan penghuni bumi. Maka turunnya Al-Qur’an dengan dua proses, yaitu :
1.       Al-Qur’an turun pada malam lailatul qadar pada malam kemuliaan, merupakan pemberitahuan Allah SWT kepada alam tingkat tinggi yang terdiri dari malaikat-malakat akan kemuliaan umat Nabi Muhamad SAW.
2.       Turunnya Al-Qur’an secara bertahap ( munajaman ), dengan tujuan menguatkan hati Rasul SAW dan menghibur serta mengikuti peristiwa dan kejadian-kejadian sampai Allah SWT menyempurnakan agama ini dan mencukupi nikmat-nikmat-Nya.
Perbedaan turunnya Al-Qur’an secara sekaligus dan berangsur-angsur disebabkan karena merujuk kepada dua kata anzala dan nazala dalam ayat surat al-Isra’ : 105.
وَبِالْحَقِّ أَنزَلْنَاهُ وَبِالْحَقِّ نَزَلَ وَمَآأَرْسَلْنَاكَ إِلاَّ مُبَشِّرًا وَنَذِيرًا - الإسراء : 105 -
Dan Raghib al-Asfahani mengatakan : perbedaan dua kata tersebut, kata inzal dan tanzil, Yaitu bahwa kata tanzil ( التنزيل ) dimaksudkan berkenaan turunya Al-Qur’an secara berangsur-angsur ( مفرّقا ),atau ( منجما) Sedangkan kata inzal ditujukan berkenaan turunya al-qur’an secara sekaligus ( جملة ).
·      Dasar turunnya Al-Qur’an sekaligus
!$¯RÎ) çm»oYø9tRr& Îû 7's#øs9 >px.t»t6B 4 $¯RÎ) $¨Zä. z`ƒÍÉZãB ÇÌÈ
 Sesumgguhmya Kami menurunkan ( Al-Qur’an ) pada malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kamilah yang memberi peringatan “.( QS. Al-Dhukhan : 3 )
Firman Allah SWT Surat Al-Baqarah : 185
ããöky­ tb$ŸÒtBu üÏ%©!$# tAÌRé& ÏmŠÏù ãb#uäöà)ø9$# Wèd Ĩ$¨Y=Ïj9 ;M»oYÉit/ur z`ÏiB 3yßgø9$# Èb$s%öàÿø9$#ur 4 ÇÊÑÎÈ
 “ Bulan Ramadhan bulan yang didalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang hak dan yang bathil( QS. Al-Baqarah[2] : 185 ).
Firman Allah SWT surat Al-Qadr : 1
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ  – القدر : 1 -
Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Qur’an pada malam kemuliaan” ( QS. Al-Qadr : 1 )
Hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas ra, bahwa ia berkata :
أنزل القرأنُ جملةً واحدة ً إلى السمَاءِ الدنيا وكانَ بمواقعِ النجومِ وكان اللهُ يُنزله ُ على رسوله صلى الله عليه وسلمّ بعضه فى إثر بعضٍ .
Allah menurunkan Al-Qur’an sekaligus ke langit dunia, tempat turunnya secara berangsur-angsur. Lalu Dia menurunkannya kepada Rasul-Nya SAW bagian demi bagian . “ ( HR. Al Hakim dan al-Baihaqi )
Dalam riwayat Ibnu Abbas ra yang lain, beliau berkata :
أنزلَ القرأنُ فى ليلةِ القدرِ فى شَهرى رمضان إلى السماء الدنيا جملةً واحدةً ثم أنزل نجوماً .
Al-qur’an diturunkan pada malam lailatul Qadar pada bulan Ramadhan ke langit dunia sekaligus, lalu ia menurunkan secara berangsur-angsur “. (HR. Al-Tabrani ).[8]
·           Dasar Turunnya Al-Qur’an berangsur-angsur
Firman Allah SWT surat al-Isra’ : 106
وَقُرْءَانًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَى مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنْزِيلًا * - الإسراء : 106_
Dan Al-Qur’an telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur, agar kamu membacanya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian-demi bagian” .  ( QS. Al-Isra’ : 106 ).
Dan Firman Allah SWT surat Al-Furqan : 32
وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْءَانُ جُمْلَةً وَاحِدَةً كَذَلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلًا * – الفرقان : 32 –
Berkatalah orang-orang kafir : “ mengapa Al-Qur’an tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja? Demikian supaya Kami perkuat hatimu dengannya, dan Kami membacakannya kelompk demi kelompok. ( QS. Al-Furqon : 32 ).
C.    Hikmah Turunnya Al-Qur’an dengan berangsur-angsur
1.         Menguatkan atau meneguhkan hati Rasulullah SAW
Rasulullah telah menyampaikan dakwahnya kepada manusia, tetapi ia menghadapi sikap mereka yang membangkang dan watak yang begitu keras. Ia ditantang oleh orang-orang yang berhati batu, berperangai kasar dan keras kepala. Mereka senantiasa melemparkan berbagai macam gangguan dan ancaman kepada Rasul.  Padahal dengan hati tulus ia ingin menyampaikan segala yang baik kepada mereka, sehingga dalam hal ini Allah mengatakan :
y7¯=yèn=sù ÓìÏ»t/ y7|¡øÿ¯R #n?tã öNÏd̍»rO#uä bÎ) óO©9 (#qãZÏB÷sム#x»ygÎ/ Ï]ƒÏyÛø9$# $¸ÿyr& ÇÏÈ
Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh dirimu Karena bersedih hati setelah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan Ini (Al-Quran)” (QS. Al kahfi [18]: 6).
Al-Qur’an memerintahkan Rasul untuk bersabar dalam menghadapi perilaku masyarakatnya atas pendustaan, kecongkakan, kesombongan mereka, sebagaimana Rasul-rasul sebelumnya (QS. Al Ahqaf [46] :35). Jiwa Rasul menjadi tenang karena Allah menjamin akan melindunginya dari gangguan orang-orang yang mendustakan firman-Nya (QS. Al muzzamil [73] :10-11). Setiap kali penderitaan Rasulullah SAW bertambah karena didustakan oleh kaumnya dan merasa sedih karena penganiayaan mereka, maka       Al-Qur’an turun untuk melepaskan derita dan menghiburnya serta mengancam orang-orang yang mendustakan bahwa Allah mengetahui hal-ihwal mereka dan akan membalas apa yang mereka lakukan itu (QS. Ya sin [36]: 76). Demikian pula Allah menyampaikan berita gembira kepadannya dengan ayat-ayat yang berisi perlindungan, kemenangan dan pertolongan: (QS. Al maidah [5] : 67, QS. Al fath [48]: 3, QS. Al mujadalah, [58]:21)
        Demikianlah, ayat-ayat Al-Qur’an itu turun kepada Rasulullah secara berkesinambungan sebagai penghibur dan pendukung sehingga ia tidak dirundung kesedihan dan dihinggapi rasa putus asa(QS.Al furqan[25]: 32).
2.         Tantangan dan mukjizat.
Orang-orang musyrik senantiasa berkubang dalam kesesatan dan kesombongan hingga melampaui batas. Mereka sering mengajukan pertanyaan-pertanyaan dengan maksud melemahkan dan menantang, untuk menguji kenabian Rasulullah. Mereka juga sering menyampaikan kepadanya hal-hal bathil yang tak masuk akal, seperti menanyakan tentang hari kiamat (QS. Al a’raf [7] :187). Maka turunlah Al-Qur’an dengan ayat yang menjelaskan kepada mereka segi kebenaran dan memberikan jawaban yang amat jelas atas pertanyaan mereka, misalnya firman Allah:
Ÿwur y7tRqè?ù'tƒ @@sVyJÎ/ žwÎ) y7»oY÷¥Å_ Èd,ysø9$$Î/ z`|¡ômr&ur #·ŽÅ¡øÿs? ÇÌÌÈ
“Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya”(QS. Al furqan [25]: 33).
Maksud ayat tersebut ialah “setiap mereka datang kepadamu dengan pertanyaan yang aneh-aneh dari sekian pertanyaan yang sia-sia, Kami datangkan kepadamu jawaban yang benar dan sesuatu yang lebih baik maknanya daripada pertanyaan-pertanyaan yang hanya merupakan contoh kesia-siaan saja.
3.         Mempermudah hafalan dan pemahamannya
Al-Qur’anul karim turun di tengah-tengah umat yang ummi yang tidak pandai membaca dan menulis. Catatan mereka adalah hafalan dan daya ingatan. Mereka tidak mempunyai pengetahuan tentang tata cara penulisan dan pembukuan yang dapat memungkinkan mereka menuliskan dan membukukannya, kemudian menghafal dan memahaminya.
uqèd Ï%©!$# y]yèt/ Îû z`¿ÍhÏiBW{$# Zwqßu öNåk÷]ÏiB (#qè=÷Ftƒ öNÍköŽn=tã ¾ÏmÏG»tƒ#uä öNÍkŽÏj.tãƒur ãNßgßJÏk=yèãƒur |=»tGÅ3ø9$# spyJõ3Ïtø:$#ur bÎ)ur (#qçR%x. `ÏB ã@ö6s% Å"s9 9@»n=|Ê &ûüÎ7B ÇËÈ
“Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan hikmah (As Sunnah). dan Sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata” (QS. Al-Jumu’ah[62]:2).
4.         Kesesuaian dengan peristiwa-peristiwa dan pentahapan dalam penetapan hukum
Manusia tidak akan mudah mengikuti dan tunduk kepada agama yang baru ini seandainya Al-Qur’an tidak menghadapi mereka dengan cara yang bijaksana dan memberikan kepada mereka beberapa obat penawar yang ampuh yang dapat menyembuhkan mereka dari kerusakan dan kerendahan martabat. Setiap kali terjadi suatu peristiwa diantara mereka, maka turunlah hukum mengenai peristiwa itu yang memberikan kejelasan statusnya dan petunjuk serta meletakkan dasar-dasar perundang-undangan bagi mereka, sesuai dengan situasi dan kondisi, satu demi satu. Dan cara demikian ini menjadi obat bagi hati mereka.
Pada mulanya Al-Qur’an meletakkan dasar-dasar keimanan kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari kiamat serta apa yang ada pada hari kiamat itu seperti kebangkitan, hisab, balasan surga dan neraka. Untuk itu, Al-Qur’an menegakkan bukti-bukti dan alasan sehingga kepercayaan kepada berhala tercabut dari jiwa-jiwa orang musyrik dan tumbuh bsebagai gantinya aqidah Islam.
5.         Bukti yang pasti bahwa Al-Qur’an diturunkan dari sisi yang Maha bijaksana dan Maha Terpuji
Al-Qur’an yang turun secara berangsur-angsur kepada Rasulullah SAW dalam waktu hampir 23 tahun ini, dan selama itu orang membacanya dan mengkajinya surah demi surah. Ketika itu ia melihat rangkaiannya begiti padat, tersusun cermat sekali dengan makna yang saling bertautan, dengan gaya yang begitu kuat, serta ayat demi ayat dan surah demi surah saling terjalin bagaikan untaian mutiara yang indah yang belum pernah ada bandingannya dalam perkataan manusia:
!9# 4 ë=»tGÏ. ôMyJÅ3ômé& ¼çmçG»tƒ#uä §NèO ôMn=Å_Áèù `ÏB ÷bà$©! AOŠÅ3ym AŽÎ7yz ÇÊÈ
“Alif laam raa, (Inilah) suatu Kitab yang ayat-ayatNya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah) yang Maha Bijaksana lagi Maha tahu,” (QS. Hud [11]:1).
Seandainya Al-Qur’an ini perkataan manusia yang disampaikan dalam berbagai situasi, peristiwa dan kejadian, tentulah di dalamnya terjadi ketidakserasian dan saling bertentangan satu dengan yang lain, serta sulit terjadi keseimbangan. (QS An-Nisa[4]:82).

IV.            KESIMPULAN
1.             Nuzulul Qur’an berasal dari kata nuzul dan alqur’an. Secara etimologi kata nuzul berasal dari kata (نزل - ينزل - نزول)  yang artinya turun, Sedangkan etimologi kata Al-Qur’an berasal dari kata (قرأ – يقرؤ –  فرأنا ) yang  berarti bacaan. nuzul  Al-Qur’an kepada rasulullah adalah penerimaan Al-Qur’an oleh rasulullah.
2.             Allah menurunkan Al-Qur’an kepada rosulullah melalui 3 tahap:
a.    Al-Qur’an di turunkan oleh Allah secara sekaligus ke Lauh Mahfudz
b.    Al-Qur’an di turunkan dari Lauh Mahfudz ke Bait Al-Izzah di langit dunia
c.    Al-Qur’an di turunkan dari langit dunia kepada Nabi Muhammad melalui perantara malaikat jibril.
3.             Turunnya Al-qur’an secara berangsur-angsur memiliki beberapa rahasia dan hikmahnya, diantaranya :
a.         Menguatkan atau meneguhkan hati Rasulullah SAW
b.         Tantangan dan mukjizat.
c.         Mempermudah hafalan dan pemahamannya
d.         Kesesuaian dengan peristiwa-peristiwa dan pentahapan dalam penetapan hukum
e.         Bukti yang pasti bahwa Al-Qur’an diturunkan dari sisi yang Maha bijaksana dan Maha Terpuji




DAFTAR PUSTAKA
Anwar, Abu, 2009. Ulumul Qur’an “Sebuah Pengantar” Pekanbaru : Sinar Grafika Offset.
Anwar, Rosihan, 2007. Ulum Al-Quran, Bandung: Pustaka Setia
As-Shiddieqy,Teungku M. Hasbi, 2011. Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Quran dan Tafsir , Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra.
Charisma, Moh. Chadziq, 1991. Tiga aspek Kemukjizatan Al-Qur’an, Surabaya: PT Bina Ilmu.
Ichwan, Mohammad nor, 2008. Studi Ilmu-ilmu Alqur’an, Semarang : RASAIL Media Group.
Marzuki, Kamaluddin, 1994. ‘Ulum Al-Qur’an, Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
Syadali, Ahmad, dkk, 2000. Ulumul Qur’an I, Bandung : CV.Pustaka Setia.
.







[1] Ahmad Syadali, Ahmad Rof’i, Ulumul Qur’an I, (Bandung : CV.Pustaka Setia), 2000, hlm. 31
[2] Ahmad Syadali, Ahmad Rof’i, Ulumul Qur’an I. hlm. 30
[3] Mohammad nor Ichwan, Studi Ilmu-ilmu Alqur’an, (Semarang : RASAIL Media Group), 2008, hlm. 27
[4] Moh. Chadziq Charisma, Tiga aspek Kemukjizatan Al-Qur’an, (Surabaya: PT Bina Ilmu), 1991.Hlm 5
[5] Teungku M. Hasbi as-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Quran dan Tafsir , (Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra), 2011 hlm. 19-20

[6] Rosihan Anwar, Ulum Al-Quran, (Bandung: Pustaka Setia), 2007, Hlm.34
[7] Abu Anwar, Ulumul Qur’an “Sebuah Pengantar” (Pekanbaru : Sinar Grafika Offset), 2009, hlm.19
[8] Kamaluddin marzuki, ‘Ulum Al-Qur’an, (Bandung : PT Remaja Rosdakarya),1994, Hlm.26

0 Response to "SEJARAH NUZULUL QUR’AN"

Posting Komentar